Empat Pilar Iman kepada Allah yang Wajib Dipahami Setiap Muslim
Diantara aqidah yang wajib untuk diyakini bahkan ia merupakan fondasi terbesar keimanan seseorang hamba yaitu iman kepada Allah.
Para ulama menjelaskan bahwa iman kepada Allah mencakup empat pilar utama. Empat pilar merupakan dasar aqidah yang menjadi penentu lurus atau rusaknya keimanan seseorang. Siapa yang memahami dan mengamalkannya, ia berada di atas jalan para nabi dan rasul. Namun siapa yang merusaknya, maka imannya terancam, bahkan bisa gugur tanpa disadari.
Berikut penjelasan runut dan lengkap tentang empat pilar iman kepada Allah, disertai dalil Al-Qur’an dan hadis:
1. Iman kepada Wujud (Keberadaan) Allah Ta‘ala
Pilar pertama dari iman kepada Allah adalah meyakini dengan yakin bahwa Allah benar-benar ada. Keberadaan Allah bukan sesuatu yang samar, bukan pula hasil spekulasi filsafat. Justru sebaliknya, keberadaan Allah ditegaskan oleh fitrah, akal, dan dalil syar‘i.
Dalil Fitrah dan Hadits Nabi ﷺ
Setiap manusia sejak lahir telah membawa fitrah untuk mengenal Tuhannya. Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ»
“Tidaklah seorang bayi dilahirkan kecuali ia dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (Muttafaq ‘alaih)
Hadits ini menunjukkan bahwa mengenal Allah adalah bawaan asli manusia. Lingkunganlah yang sering menutupi fitrah tersebut.
Dalil Akal dari Al-Qur’an
Allah Ta‘ala menantang akal manusia dengan pertanyaan yang sangat logis:
﴿أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ﴾
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu apa pun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. Ath-Thur: 35)
Mustahil alam semesta ini tercipta tanpa pencipta. Mustahil pula makhluk menciptakan dirinya sendiri. Maka tidak ada pilihan lain kecuali mengakui bahwa semua ini diciptakan oleh Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
2. Iman kepada Rububiyyah Allah Ta‘ala
Pilar kedua adalah iman kepada rububiyyah Allah, yaitu meyakini bahwa Allah satu-satunya Rabb: Pencipta, Pemilik, dan Pengatur seluruh alam semesta. Allah-lah yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, menurunkan hujan, dan mengatur seluruh urusan makhluk, tanpa ada satu pun sekutu bagi-Nya. Allah Ta‘ala berfirman:
﴿أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ﴾
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb seluruh alam.” (QS. Al-A‘raf: 54)
Menariknya, kaum musyrikin Quraisy pun mengakui rububiyyah Allah. Mereka tahu Allah adalah Pencipta. Namun pengakuan itu tidak cukup menyelamatkan mereka, karena mereka gagal pada pilar berikutnya: uluhiyyah.
3. Iman kepada Uluhiyyah Allah (Tauhid Ibadah)
Inilah inti dakwah para rasul dan pilar terpenting dari iman kepada Allah yaitu mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah. Iman kepada uluhiyyah berarti: Tidak berdoa kecuali kepada Allah, tidak menyembelih kecuali untuk Allah, tudak bernazar, takut, berharap, bertawakal, sujud, dan tunduk kecuali kepada Allah. Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ﴾
“Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa, tidak ada sesembahan yang benar selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)
Dan Allah juga berfirman:
﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾
“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)
Tauhid Uluhiyyah adalah Inti Semua Risalah
Allah Ta‘ala menegaskan:
﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾
“Sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul (dengan seruan): ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36)
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: “Thaghut adalah segala sesuatu yang melampaui batas, baik berupa sesembahan, yang diikuti, atau yang ditaati.”
Sementara Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab رحمه الله menjelaskan bahwa thaghut itu banyak, dan di antaranya: Iblis, orang yang disembah dan ridha, orang yang mengajak manusia menyembah dirinya, orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib, orang yang berhukum dengan selain hukum Allah.
Tauhid uluhiyyah inilah yang paling sering dirusak, padahal ia adalah pembeda antara iman dan syirik.
4. Iman kepada Asma’ dan Sifat Allah
Pilar keempat adalah iman kepada nama-nama Allah yang indah (Asma’ul Husna) dan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Prinsipnya sederhana: Menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dan apa yang Rasul-Nya ﷺ tetapkan, tanpa tahrif (mengubah), tanpa ta‘thil (menolak), tanpa takyif (membayangkan), dan tanpa tamtsil (menyerupakan). Allah Ta‘ala berfirman:
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)
Ayat ini menutup dua penyimpangan sekaligus: Menyerupakan Allah dengan makhluk dan menolak sifat Allah
Penutup: Iman yang Menghidupkan Hati
Empat pilar iman kepada Allah ini bukan sekadar teori aqidah, tetapi jalan hidup seorang mukmin. Siapa yang benar dalam keempatnya, maka imannya kokoh. Siapa yang rusak salah satunya, maka imannya terancam runtuh.
Mari kita periksa diri kita, sudahkah kita benar-benar mengenal Allah? Sudahkah ibadah kita murni hanya untuk-Nya? Sudahkah kita mengenal-Nya dengan nama dan sifat-Nya yang agung?
Semoga Allah Yang Maha Pemurah memenuhi hati kita dengan iman, meneguhkannya dengan keyakinan, dan menghiasinya dengan keikhlasan. Allahumma Aamiin...
Sumber: Tsalatsatul Ushul wa Adillatuha
Baca juga: Ruang lingkup aqidah

Komentar
Posting Komentar