Merenungkan Satu Hal yang Pasti


Kematian adalah satu kepastian yang tidak pernah bisa dihindari oleh siapa pun. Ia datang tanpa menunggu kesiapan, tanpa melihat usia, dan tanpa mempertimbangkan keadaan. Setiap manusia, cepat atau lambat, akan sampai pada saat di mana dunia harus ditinggalkan, dan perjalanan menuju akhirat pun dimulai. Mengingat kematian bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menyadarkan hati agar hidup tidak berjalan tanpa arah.

Siapa pun yang merenungi hidup dengan jujur akan menyadari bahwa dunia ini sangat singkat. Ia tampak panjang ketika dijalani, tetapi terasa sekejap ketika ditinggalkan. Al-Qur’an menggambarkan dunia seperti tanaman yang tumbuh subur setelah disiram hujan, tampak hijau dan indah, namun tidak lama kemudian menguning, kering, dan hancur. Begitulah kehidupan yang dinikmati sebentar, lalu pergi tanpa bisa dibawa.

Allah Ta‘ala berfirman:

ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Kemudian tanaman itu menjadi kering, engkau melihatnya menguning, lalu hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dan keridaan dari Allah. Dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Al-Ḥadīd: 20)

Ketika kematian datang, manusia memasuki fase yang tidak pernah bisa ia bayangkan sebelumnya. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa ruh seorang mukmin dicabut dengan kelembutan dan kemudahan. Ruh itu diangkat ke langit, disambut oleh para malaikat rahmat, lalu dikembalikan ke jasadnya di dalam kubur. Di sana ia ditanya tentang Rabb-nya, agamanya, dan nabinya. Dengan izin Allah, ia mampu menjawab dengan benar karena semasa hidupnya ia berdiri di atas keimanan. Allah Ta‘ala berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh di kehidupan dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrāhīm: 27)

Namun perjalanan ini sangat berbeda bagi orang kafir dan orang yang berpaling dari kebenaran. Ketika ruhnya keluar, tercium bau yang sangat busuk dan menjijikkan. Pintu-pintu langit tidak dibukakan untuknya, dan ia tidak disambut oleh para malaikat rahmat. Ruh itu dihempaskan dan dilemparkan dengan keras, lalu dikembalikan ke kuburnya tanpa mampu menjawab pertanyaan malaikat. Allah Ta‘ala berfirman:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan ia jatuh dari langit, lalu disambar burung atau diterbangkan angin ke tempat yang sangat jauh.” (QS. Al-Ḥajj: 31)

Rasulullah ﷺ juga mengabarkan bahwa kubur adalah awal dari kehidupan akhirat. Ia bisa berubah menjadi taman dari taman-taman surga, atau menjadi lubang dari lubang-lubang neraka. Di sanalah manusia menunggu dalam alam barzakh hingga datang hari kebangkitan.

Ketika sangkakala ditiup, Allah membangkitkan seluruh manusia untuk berdiri menghadap Rabb semesta alam. Hari itu adalah hari yang sangat panjang dan menakutkan. Matahari didekatkan ke atas kepala manusia, keringat mengalir sesuai dengan kadar amal masing-masing, dan tidak ada naungan apa pun kecuali naungan ‘Arsy Allah. Hari itu berlangsung selama lima puluh ribu tahun. Allah Ta‘ala berfirman:

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَة

"Para malaikat dan ruh naik menghadap-Nya pada hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS. Al-Ma‘ārij: 4)

Setelah itu, timbangan amal ditegakkan dan manusia dihisab atas seluruh perbuatannya. Tidak ada yang tersembunyi, tidak ada yang terlupa, dan tidak ada yang terlewat. Kemudian manusia digiring menuju tempat akhirnya: penghuni surga menuju surga, dan penghuni neraka menuju neraka. Pertanyaannya kini menjadi sangat pribadi: kita akan termasuk golongan yang mana?

Apakah kita termasuk orang-orang yang berbahagia, yang akan dikatakan:

لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ

“Tidak ada rasa takut atas kalian dan kalian tidak akan bersedih.” (QS. Al-A‘rāf: 49)

Ataukah kita termasuk orang-orang yang merugi dengan kerugian terbesar, kerugian yang tidak bisa dibandingkan dengan kerugian apa pun di dunia? Kerugian akhirat bukan sekadar kehilangan harta atau kedudukan, tetapi kehilangan diri sendiri dan seluruh yang dicintai. Dan itu bukan kematian yang mengakhiri rasa sakit, sebagaimana firman Allah:

لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَا

“Ia tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup.” (QS. Ṭāhā: 74)

Adapun kebahagiaan akhirat adalah surga, tempat yang tidak memiliki bandingan dengan dunia kecuali pada namanya saja. Di dalamnya terdapat kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia.

Syaikh Umar Al-Asyqar mengatakan, "Barang siapa merenungi akhir perjalanan ini melalui firman Allah Tabāraka wa Ta‘ālā dan sabda Rasul pilihan-Nya ﷺ, niscaya ia akan menyaksikan banyak keajaiban dan pelajaran. Saat itulah hati menjadi lembut, jiwa pun tunduk dan khusyuk. Seorang muslim akan menimbang berbagai perkara dengan adil dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Maka hiduplah jiwa-jiwa ini dan hidup pula hati-hati ini."

Kita memohon kepada Allah Tabāraka wa Ta‘ālā agar Dia memberikan taufik kepada kita dan kepada kalian untuk melakukan apa yang Dia cintai dan Dia ridhai. Allahumma Aamiin... 

Komentar