Diam: Keselamatan yang Sering Terlupakan

 

Banyak orang menyesal karena terlalu banyak bicara, hampir tidak ada yang menyesal karena memilih diam. Kalimat ini terasa sederhana, tapi sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Satu ucapan bisa memperbaiki keadaan, tapi satu ucapan pula bisa merusak segalanya: hubungan, kehormatan, bahkan amal di akhirat.

Islam tidak melarang berbicara. Namun Islam mengajarkan kendali. Karena lisan adalah salah satu nikmat terbesar, sekaligus salah satu sumber kebinasaan paling berbahaya bila tidak dijaga.

Setiap Kata Tidak Pernah Sia-sia

Allah Ta‘ala berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa setiap kata yang keluar dari mulut manusia pasti dicatat, tanpa terkecuali. Bahkan bukan hanya ucapan, gerakan pun tidak luput dari pengawasan, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ ۝ كِرَامًا كَاتِبِينَ ۝ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ ۝ 

“Dan sesungguhnya atas kalian ada para penjaga, yang mulia lagi mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10–12)

Lebih dari itu, Nabi ﷺ mengingatkan dengan sangat tegas tentang bahaya lisan. Dalam hadis yang masyhur, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Mu‘adz bin Jabal:

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ ـ أَوْ قَالَ: عَلَى مَنَاخِرِهِمْ ـ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“Bukankah yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka hingga tersungkur di wajah mereka adalah hasil panen lisan mereka?” (HR. Ibnu abi syaibah, no. 27029)

Hadis ini sangat mengguncang: banyak orang masuk neraka bukan karena tangan atau kaki, tapi karena lisan-lisan mereka.

Bicara Itu Risiko Besar

Asy-Syaukani menjelaskan bahwa setiap ucapan manusia diawasi oleh malaikat. Malaikat kanan mencatat kebaikan, malaikat kiri mencatat keburukan. Keduanya selalu hadir, siap, dan tidak lalai. (Fathul qadir, 5/89) 

Artinya, setiap kali kita berbicara, kita sedang “menyetor catatan”. Dan semakin sering bicara, semakin banyak yang disetor entah pahala, entah dosa.

Diam Itu Selamat, Bicara Baik Adalah Keuntungan

Ibnu ‘Abdil Barr menyebutkan satu kaidah yang sangat indah: "Diam adalah keselamatan, berkata baik adalah ghanimah (baca: keuntungan)"

Diam menjaga kita dari dosa. Tapi jika seseorang mampu berkata baik dan berucap yang benar, bermanfaat, dan berpahala maka itu lebih utama daripada diam. Masalahnya, tidak semua orang mampu memastikan lisannya selalu baik.

Karena itu Nabi ﷺ memberi batas yang sangat jelas:

فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Penjelasan Ulama: Diam Lebih Aman bagi Kebanyakan Orang

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa seseorang hanya dianjurkan berbicara jika jelas ucapannya mengandung kebaikan dan berpahala, baik wajib maupun sunnah. Jika tidak jelas bahkan sekadar mubah maka diam lebih dianjurkan. (Syarhu An-nawawu 'alaa muslim, 2/18)

Kenapa? Karena ucapan mubah sering kali menjadi pintu menuju yang haram atau makruh. Dan ini, kata beliau, sering terjadi, bahkan dalam kebiasaan sehari-hari.

Nasihat Tajam dari Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali mengatakan: Siapa yang merenungi bahaya-bahaya lisan akan sadar bahwa melepas lisan tanpa kendali hampir pasti tidak selamat. Semua kebinasaan itu berada di jalan orang yang berbicara. Diam membuat seseorang selamat dari semuanya. Sedangkan berbicara adalah mempertaruhkan diri kecuali bagi orang yang: Ilmunya luas, lisannya terjaga, wara‘ dan takut kepada Allah, selalu merasa diawasi, dan membatasi ucapannya. Itu pun, kata Al-Ghazali, masih tidak lepas dari bahaya.

Karena itu beliau menutup dengan nasihat yang sangat menyentuh:

“Jika kamu tidak mampu menjadi orang yang berbicara lalu mendapatkan keuntungan, maka jadilah orang yang diam lalu mendapatkan keselamatan. Karena keselamatan adalah salah satu dari dua keuntungan.” (Ihya Ulumiddin, 3/162) 

Penutup: Diam yang Bernilai Ibadah

Diam bukan berarti pasif. Diam bukan tanda kalah. Dalam banyak keadaan, diam adalah bentuk ibadah, kecerdasan, dan rasa takut kepada Allah.

Sebelum lisan bergerak, ingatlah!Setiap kata dicatat, setiap ucapan dipertanggungjawabkan, dan banyak manusia binasa karenanya. 

Jika tidak yakin kata itu membawa kita ke surga, diam mungkin adalah jalan paling aman menuju keselamatan. Karena di akhirat nanti, selamat saja sudah merupakan kemenangan besar.

Sumber: Mausu'ah Al-Akhlak Al-Islamiyyah

Ditulis Oleh: Adjie Abu Salma

Komentar